Data Sebagai Sumber Rezeki Baru

TAHUN 2013 ini diyakini merupakan tahun perebutan pelanggan seluler oleh para operator yang berlomba menyediakan layanan berbasis 3G, digital services. Kata Presiden Direktur PT XL Axiata, Hasnul Suhaimi, orang tidak mengejar tarif murah lagi, tetapi lebih ke kenyamanan berkomunikasi dengan tersedianya jaringan yang andal yang ditunjang ketersediaan frekuensi yang memadai.

Apalagi setiap tahun bertambah 7 juta penduduk yang masuk kelas menengah, yang mulai menggunakan ponsel pintar atau ganti mobil baru yang lebih mahal, yang lebih banyak mengakses layanan telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G).

Pelanggan pemakai BlackBerry di XL Axiata pada tahun 2008 hanya 17.000, tetapi pada 2012 sudah meningkat jauh menjadi 3,2 juta pelanggan yang ber-BB.

Operator pun sudah memberi layanan berbasis data, seperti TCash, mobile banking. Mobile commerce, dari XL misalnya XL-Ku yang menggratiskan pengiriman data sampai 1 Mega, Serba Seribu dengan gratis data 10 Mega. Atau XL Bebas, yang memberi layanan data sampai 10 Giga pada jam-jam tertentu hanya dengan Rp 49 ribu sebulan.

Masyarakat menyambut layanan data dengan antusias, terutama untuk jaringan sosial, apalagi harga ponsel dengan kemampuan 3G sudah makin murah. Saat ini 60 persen ponsel baru yang dijual di pasar sudah bisa digunakan untuk data.

Hampir semua operator menyebutkan bahwa pengguna jasa 3G dari tahun ke tahun makin meningkat, sementara layanan suara menurun dan SMS akhir-akhir ini menempati posisi tetap dari sisi persentase namun dari sisi uang meningkat. SMS menyumbang sekitar 28 persen dari pendapatan operator.

Sumbangan terhadap pendapatan operator dari layanan data, menurut Hasnul yang juga Komisaris Utama Robi – operator seluler di Banglades yang sama-sama anggota grup Axiata – naik dari 15 persen pada tahun 2011 menjadi 20 persen tahun lalu.

Sementara sumbangan dari penggunaan suara (voice), pada periode sama turun dari 53 persen menjadi 50 persen, VAS (jasa nilai tambah) dari 4 persen turun menjadi 2 persen.

Industri memang menempatkan data sebagai pemberi rezeki baru, yang tidak menggeser jumlah sumbangan dari tiap layanan, melainkan menambahkan besaran pendapatan operator.

Dari 45,8 juta pelanggan XL Axiata pada tahun 2012, pemakai data mencapai 25,6 juta atau 56 persennya, sementara Telkomsel menyebutkan jumlah pemakai layanan data sekitar 65 persen dari 126 juta pelanggannya.

Jumlah pelanggan XL turun dari tahun 2011 yang sebesar 46,4 juta menjadi 45,8 juta pada tahun 2012, namun pendapatan naik 15 persen dari Rp 18,4 triliun menjadi Rp 21,2 triliun. Hanya saja laba XL tahun 2012 turun dari Rp 2,83 triliun pada 2011 menjadi Rp 2,76 triliun.

3G di Belakang Padang

Saat ini, kebutuhan 3 operator besar akan kanal 3G sangat mendesak, dan mereka ikut tender memperebutkan dua kanal di 2,1 GHz, kecuali mungkin PT Indosat. Sementara Axis dan Tri tidak ikut tender, hanya akan mengoptimalkan kanal yang sudah mereka miliki.

PT Telkomsel dan PT XL Axiata sama-sama mengkhawatirkan penggunaan data yang sudah mendekati jenuh, sehingga perlu mendapat tambahan, yang kalau tidak terjadi akan menurunkan mutu layanan. Sementara Director & Chief Commercial PT Indosat Erik Meijer memperkirakan baru dalam 3 sampai 4 tahun ke depan PT Indosat membutuhkan tambahan kanal pada rentang frekuensi 2,1 GHz itu.

Sebelumnya CEO PT Indosat, Alex Rusli mengisyaratkan tidak akan melanjutkan proses seleksi karena persyaratan terlalu berat. Operator milik Qatar Telecom (QTel) itu lebih nyaman mengembangkan layanan 3G di 10 MHz pada rentang frekuensi 900 MHz yang dimilikinya, dan sudah melakukan percobaan di Sumatera Barat. Selain memiliki frekuensi di rentang 900 MHz, Indosat juga punya 20 MHz di rentang 1800 MHz dan 10 MHz di rentang 3G.

XL Axiata sendiri tidak berminat mengembangkan layanan 3G di frekuensi 900 MHz atau 1800 MHz, dan belum tahu apakah akan bisa segera masuk ke layanan generasi keempat (4G) atau LTE (long term evolution). LTE akan menggunakan frekuensi mana saja masih belum diketahui.

Pemerintah sudah mengalokasikan rentang frekuensi 2,3 GHz, yang di dunia luar digunakan untuk 4G, untuk layanan WiMax. Sementara frekuensi 700 MHz sebanyak 150 MHz masih digunakan untuk migrasi siaran TV dari analog ke digital.

Kata Hasnul, pengunaan frekuensi masing-masing sebesar 7,5 MHz di 900 MHz dan di 1800 MHz sudah optimal, sehingga di kedua frekuensi itu tidak bisa dialihkan untuk layanan 3G. Memanfaatkan frekuensi 900 untuk 3G, katanya, akan menurunkan mutu layanan kepada pelanggan.

Tahun lalu pembangunan BTS di XL Axiata merupakan prestasi karena dalam setahun mereka berhasil membangun 11.000 BTS, sebagian besar BTS 3G. Bandingkan dengan kemampuan tahun 2004 yang sepanjang tahun hanya 900 BTS. Bahkan untuk jumlah pelanggan yang sedikit pun, di jalur terluar Indonesia, XL juga membangun BTS 3G, seperti di Pulau Belakang Padang, sekitar 9 km dari Singapura, di Propinsi Kepulauan Riau.

Di pulau ini hanya ada 2.000 pelanggan XL, namun mereka terbiasa memanfaatkan layanan 3G, apalagi belum lama XL memberikan gratis Kartu XL Komunitas bagi para tukang beca dan nelayan, juga membagi alat-alat sekolah kepada murid-murid di SD 01, pulau yang juga dinamai Pulau Penawar Rindu ini.

Penulis : hendro

 

Leave a Reply