HP Cina menggoyang pasar
Ketika memilih sebuah barang, benarkah harga selalu menjadi faktor utama? Padahal jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya kita cenderung lebih mementingkan merek dibanding harga. Tidak percaya? Banyak konsumen yang lebih percaya pada merek terkenal daripada harus menunggu diskon. Asalkan mereknya sudah dipercaya, tak peduli harganya berapa, pilihan langsung jatuh kepadanya tanpa dipikir panjang.
Tahukah Anda arti pentingnya sebuah merek? Hermawan Kartajaya, seorang icon Marketing kebanggaan Indonesia menjelaskan, menurutnya merek bisa dikata sebagai wujud pencapaian dari seluruh kegiatan elemen pemasaran yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan. Nantinya, merek juga akan mencerminkan nilai dari sebuah produk. Sebagai contoh, Nike dan Adidas yang sudah memiliki identitas merek yang sangat kuat dan mendunia akan selalu tetap dipercaya oleh konsumennya, di sisi lain produk lokal yang mungkin memiliki kualitas sama belum tentu dilirik pelanggannya, padahal di antara pabrikan merek dunia tersebut banyak berlabel ‘made in Indonesia’.
Maka tidaklah mengherankan jika para pelaku industri begitu berdarah-darah dalam meraih citra positif di mata pelanggannya, mereka rela menggelontorkan uang milyaran rupiah dalam mempromosikan produknya. Bukan harga murah dalam membangun sebuah merek yang baik di mata pelanggan, apalagi bagi mereka yang bermain pada segmen pasar dengan tingkat persaingan yang ketat. Satu tahun terakhir para operator seluler mencontohkannya dengan perang tarif hanya untuk mendapat citra yang paling murah dibenak masyarakat.
Nilai sebuah merek memang menjadi harga mati bagi para pemasar. Mereka percaya, semakin sebuah merek dipercaya pelanggannya maka semakin mudah produknya untuk dapat diterima masyarakat. Anda pasti tahu sepatu Nike? Begitu kuatnya nilai merek Nike sampai pemilik Nike tidak memiliki satupun pabrik, ia men-subkontrakkan produksi sepatunya kepada pihak lain. Namun karena brand image Nike yang sudah kuat, pelanggannya tidak lagi mempedulikan di mana dan siapa yang memproduksi, sepatu Nike tetap laris di pasar.
Hal yang tidak jauh beda dilakoni para pelaku industri ponsel. Berbagai vendor merek terkenal di dunia, tidak membuat sendiri produknya. Mereka memesan ponsel dengan spesifikasi tertentu ke pabrik-pabrik ponsel yang banyak bertebaran di berbagai belahan dunia. Pabrik mana saja yang berani menawarkan biaya pembuatan ponsel termurah dengan kesanggupan kualitas sesuai proposal, itulah yang akan diburu.
Beberapa tahun terakhir, Cina terkenal sebagai pusat pabrik murah untuk hampir semua jenis produk, termasuk ponsel. Karena itu, perusahaan ponsel dunia juga berhamburan ke Cina, mencari pabrik yang bisa mengurangi ongkos produksi dan akhirnya menambah pundi-pundi uang mereka.
Sebagai contoh, Nokia 8800 yang berharga diatas 6 juta itu, diproduksi di Guandong-Cina oleh Lamax Group Co. Ltd. Lalu Nokia N70, 6680, 6630 dan Motorola RAZR V3x dibuat oleh Potasen (HK) Technology Limited atau T-Link Industrial Development Company. Utone Telecom Ltd (Hongkong) membuat Samsung E900. Bestland Technology Ltd di Shenzhen Guandong Cina, juga membuat Nokia N73, N93 dan produknya diekspor ke USA, Inggris, Jerman, Perancis, Itali, Yordania, Australia, Canada, dan Swedia.
Dengan model bisnis tanpa pabrik sendiri seperti itu, pemilik merek ponsel bebas berpindah pabrik yang bisa memberi penawaran harga termurah, produk berkualitas dan lebih tepat waktu. Mereka tinggal konsentrasi pada pemasaran dan pembentukan merek yang kuat. Tentu saja pemilik merek ponsel global ini mesti memiliki divisi riset yang kuat dan canggih, agar bisa terus mengikuti perkembangan teknologi dan selera pasar.
Model bisnis seperti ini juga diikuti berbagai merek ponsel lokal yang mempercayakan produksinya pada pabrik-pabrik di negeri tirai bambu. Bedanya ponsel-ponsel lokal ini harus membangun citra mereknya dari nol, karena mereka yang merupakan pemain baru dalam arena bisnis telepon genggam.
Amankan Citra Ponsel Lokal
Pasar ponsel lokal yang mulai ramai sejak satu tahun lalu masih memperlihatkan aura yang bergairah, fitur dual-mode dan TV tuner internal diakui menjadi daya tarik dalam menarik pasar. Walau begitu, meski tidak perlu bersaing langsung dengan ponsel ternama yang sudah mempunyai pasar yang luas, merek-merek lokal ini harus bertarung dengan puluhan merek lainnya yang berada pada segmen yang sama. Sebagai catatan, hingga bulan Mei 2008 setidaknya sudah ada 30an merek lokal yang telah disertifikasi oleh Ditjen Postel.
Ponsel lokal, meski dikelola dan dimiliki pengusaha dalam negeri, namun produknya merupakan hasil buatan Cina. Fakta bahwa tidak adanya industri dalam negeri yang mampu memasok komponen dan spare part ponsel berkualitas, turut menyulitkan hadirnya ponsel yang benar-benar buatan Indonesia. Tampaknya, saat ini strategi yang paling mungkin adalah memesan ke pabrikan Cina yang murah dan banyak pilihan seperti yang dilakukan merek dunia lainnya.
Singkatnya, jika punya modal, Anda pun dapat memesan ponsel dengan model dan merek yang Anda sukai. Namun perjuangan tidak berhenti disini, Anda harus memasarkan, membangun jaringan, layanan purna jual dan mensosialisasikan merek tentunya.
Berbeda dengan merek-merek mapan yang sudah didukung mereknya yang sudah terpercaya, Anda harus berjuang membangun merek dari nol. Anda dapat berhitung, berapa biaya iklan yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Maka tak heran dalam proses promosi ini, banyak ponsel-ponsel lokal yang masih berkutat pada segudang fitur menarik (yang tidak dimiliki merek ternama) dengan harganya yang murah.
Sayangnya di antara puluhan merek yang berkecimpung dalam arena persaingan tersebut, ada beberapa pemain yang memakai jalan pintas. Mereka tidak selalu jujur dalam mempromosikan produknya. Misalnya, mencantumkan spesifikasi produk yang tidak sesuai dengan kenyataan, ada juga ponsel dengan meniru model-model ponsel ternama.
Munculnya sejumlah oknum tersebut, tentu saja merugikan merek-merek lokal yang berniat serius menggarap bisnis ini, dimana munculnya penipuan oleh beberapa pemain dalam segmen ini akan membuat masyarakat ragu akan kualitas ponsel-ponsel lokal.
K-Touch, salahsatu merek ponsel terbesar asal Cina menyayangkan munculnya penipuan yang dilakukan beberapa oknum tersebut. “Mereka melakukan penipuan kamera dan pembodohan terhadap konsumen dengan asal mencontek desain ponsel terkenal, termasuk tombol-tombol shorcutnya,” ujar Andy Tanuwijaya Marketing Manager K-Touch Indonesia.
Wajar saja K-Touch merasa menjadi pihak yang sangat dirugikan dengan kasus tersebut, sebab pihaknya yang sedang serius menggarap segmen ini, apalagi vendor asal Cina ini telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk melakukan pengembangan produk, sistem pemanufakturan sampai pemasaran produknya.
“Kami akan terus mengupayakan hingga konsumen tetap percaya dengan produk asal Cina, kalau perlu kami akan mengedukasi mereka supaya dapat membedakan produk asli dengan yang menipu,” tandas Andy. “Kami tidak mau kasus mocin (motor Cina) akan berulang pada pasar ponsel Cina, di mana masyarakat main pukul rata dan tidak lagi percaya pada semua merek ponsel Cina,” tambahnya.
Sementara itu, My-G pemain ponsel pabrikan cina lainnya ikut prihatin dengan isu penipuan tersebut, “Padahal kami sedang membangun image yang baik di mata pelanggan, salah satunya dengan menggaet bintang film terkenal dan pembangunan service center,” tutur Wirahadi K, Produk Manager My-G.
Untuk memperlihatkan keseriusannya, My-G berjanji akan memberikan garansi uang kembali 100% jika pada produk yang dibeli konsumennya tidak sesuai dengan brosur (baca: spesifikasi). “Jika pelanggan menemukan produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan tidak ingin diganti dengan produk yang sama, maka kami akan menggantinya dengan sejumlah uang sesuai harga barang tersebut,” tambah Wirahadi kepada Sinyal.
(Uteng Iskandar)

