HELSINKI, RABU - Masalah pada baterai diperkirakan akan berdampak terhadap citra Nokia sebagai produsen ponsel terbesar dunia. Sejumlah analis memperkirakan insiden ini akan berpengaruh terhadap pangsa pasar Nokia di industri ponsel.
Yang pasti, Nokia harus merogoh kocek besar untuk melakukan penggantian jutaan baterai yang diperkirakan berisiko mengalami overheating (panas berlebihan). Analis Richard Windsor dari Nomura memprediksi ongkos yang harus ditanggung Nokia bisa mencapai 137 juta dollar AS (sekitar Rp1,3 triliun).
Nilai saham Nokia di New York Stock Exchange (NYSE), Selasa (14/8) siang, turun 24 sen atau 0,79 persen sehingga menjadi 30,34 dollar AS setiap lembarnya. Di bursa Eropa, nilai sahamnya pada sesi penutupan turun 1,55 persen sehingga ikut menyumbang penurunan indeks teknologi Eropa sebesar 0,84 persen.
Analis lainnya mengatakan hal yang paling mengkhawatirkan justru apabila hal tersebut menekan pangsa pasar Nokia dan menaikkan pangsa pasar pesaingnya seperti Motorola, Samsung Electronics, dan LG Electronics. "Saya kira ini akan menggerus merek Nokia yang merupakan aset terbesarnya," ujar Soren Linde Nielsen, analis dari Jyske Bank.
Berdasarkan rating Interbrand, merek Nokia dihargai 33,7 miliar dollar AS. Merek yang sangat kuat membuatnya masih masuk jajaran lima besar merek paling bernilai di dunia, antara lain bersama Coca Cola dan Microsoft.
Karenanya, Nokia menyatakan keputusan untuk menyediakan program penggantian merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan dan upaya mempertahankan mereknya. Meski berdasarkan temuan awal, program penggantian sudah dilakukan secara global.
"Dengan bereaksi cepat, bertanggung jawab, dan transparan, kami yakin konsumen akan terus melihat Nokia sebagai brand yang dipercaya dan bertanggung jawab," ujar Robert Anderssen, kepala operasi konsumen dan pasar Nokia, dikutip Reuters.
Nokia telah menyediakan layanan online untuk mengecek dan penggantian baterai yang rawan menglamai overheating di www.nokia.com/batteryreplacement dan melalui call center. Lankah yang dumumkan Selasa (14/8) dilakukan setelah hasil investigasi menunjukkan bahwa sekitar 46 juta baterai tipe BL-5C yang dipasok Matsushita Battery Industries Co. Ltd. antara Desember 2005 hingga November 2006 diketahui rawan mengalami overheating.

