Sorotan
Bakrie Telecom Calon Raksasa Baru?
Artikel terkait

Beri Komentar

RSS Feed


Beri Rating :
Senin, 24 September 2007 | 12:01 WIB

Oleh AW Subarkah

Belum lama ini, PT Bakrie Telecom Tbk, perusahaan penyelenggara telekomunikasi nirkabel tetap, meluncurkan telepon seluler paling murah dengan harga kurang dari Rp 200.000. Awal pekan ini juga, perusahaan ini memenangi tender sambungan langsung internasional, sebuah agenda besar baru yang tentu tidak sekadar mencari peluang di harga layanan paling murah.

Sebuah agenda besar bagi operator yang mungkin selama ini "paling tidak dilihat" karena wilayah operasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTel) yang sempit, hanya kawasan Jawa Barat lama yang sekarang dibagi menjadi Banten, DKI, dan Jabar. Namun, sekarang tiba-tiba diandalkan banyak pihak untuk bisa menyaingi dua penyelenggara sambungan langsung internasional (SLI), yang notabene juga raksasa telekomunikasi Indonesia, yaitu PT Telkom dan Indosat.

Tantangan besar yang ada di pundak operator milik keluarga Bakrie ini sangat besar, termasuk menjadi tumpuan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan internet murah. Ini juga merupakan gagasan pemerintah, yang direalisasikan melalui sebuah konsorsium swasta dengan membangun jaringan backbone Palapa Ring timur dan barat.

Operator yang dikenal dengan produk layanan Esia ini memang sedang menggeliat dengan membuka layanan keluar kawasan Jabar itu, ke timur sampai Surabaya dan ke barat sampai Medan. BTel harus membangun infrastruktur telekomunikasi modern dan tidak boleh menggunakan infrastruktur yang sudah dibangun Telkom dan Indosat.

Dalam komitmen awal ketika melamar sebagai peserta tender SLI, BTel telah merencanakan pembangunan dalam lima tahun pertama. Pihak BTel bahkan menyanggupi akan mewujudkan pembangunan jaringan internasional selama tiga tahun sejak izin prinsip diterbitkan oleh pemerintah.

"Kami tentu menyambut gembira diberikannya kepercayaan tersebut. Namun, kami pun sadar bahwa kepercayaan ini merupakan amanah yang harus segera diwujudkan. Bagi BTel, lisensi ini bukan sekadar mendapatkan akses internasional, tetapi juga merupakan bentuk perwujudan terhadap komitmen kami untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini tentu saja berupa layanan telekomunikasi yang terjangkau dan berkualitas," papar Anindya N Bakrie, Direktur Utama PT Bakrie Telecom di Jakarta seusai pengumuman tender SLI.

BTel ditetapkan sebagai pemenang seleksi penyelenggaraan jaringan tetap SLI pada 14 September dan secara resmi diumumkan pada Senin (17/9) dengan mengalahkan PT Excelcomindo Pratama Tbk dan PT Natrindo Telepon Seluler. Sekalipun tim seleksi masih membuka kesempatan kepada para peserta seleksi yang tidak merasa puas dengan hasil untuk menggunakan masa sanggah sampai dengan Jumat, 21 September.

Semula peserta seleksi yang mengikuti pendaftaran dan pengambilan dokumen seleksi pada 29 Juni lalu adalah PT Bakrie Telecom, PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Mobile-8 Telecom, dan PT Natrindo Telepon Seluler. Namun, pada tahap berikutnya, peserta yang menyampaikan jawaban dokumen seleksi pada 23 Agustus tinggal tiga peserta, di mana Mobile-8 tidak menyampaikan jawaban, tetapi surat pengunduran diri dari keikutsertaan seleksi.

Tender ini dibuat untuk menciptakan persaingan yang sesungguhnya. Untuk itu, ada syarat khusus bagi peserta, yaitu perusahaan yang tidak memiliki hubungan dengan penyelenggara SLI sebelumnya. PT Indosat dan Telkom dinilai tidak melakukan kompetisi yang sesungguhnya karena adanya kepemilikan saham silang pada keduanya.

Kerja sama

Sementara, mengenai pengembangan jaringan internasionalnya, Anindya sedang mempelajari lebih dalam apakah akan membangun sendiri atau menggandeng mitra lain dalam bentuk konsorsium. "Belum, kami masih melihat mana yang terbaik. Kami sih terbuka saja kalau ada yang mau gabung sepanjang ada komitmen yang jelas terhadap percepatan pembangunan dan mampu memberikan tarif yang terjangkau bagi pelanggan," ujar Anindya.

Menyinggung ketersambungan jaringan dengan negara tujuan internasional (Tier-1), Anindya menjelaskan bahwa pihaknya akan mengusahakan tingkat yang paling singkat. Ketersambungan ini penting karena akan berdampak pada efisiensi dan efektivitas penyaluran lalu lintas percakapan telepon internasional.

Bakrie semula berkomitmen membangun jaringan tetap sambungan internasional yang telah disampaikan dokumennya kepada tim seleksi tender SLI. Pembangunan itu terbagi dalam dua rencana, pembangunan lima tahun pertama dan rencana lima tahun kedua. Nilai investasi untuk pembangunan infrastruktur yang disediakan operator layanan telepon tetap nirkabel berteknologi CDMA ini dalam lima tahun pertama adalah sebesar Rp 222,899 miliar.

Dalam lima tahun pertama akan dibangun lima sentral gerbang internasional (SGI), yaitu di Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Medan, sebuah landing point di Batam. Saluran internasional yang dibangun akan melayani kawasan Indonesia bagian barat, yaitu wilayah Jawa, Sumatera, dan Kepulauan Riau melalui SGI Jakarta. Sedangkan SGI Surabaya akan melayani daerah di luar ketiga wilayah tersebut.

Saluran internasional yang dipilih melalui Singapura, koneksi jaringan ke backbone internet Batam-Singapura ini kemudian dihubungkan ke Hongkong, Singapura ke Amerika Serikat, dan Hongkong ke Amerika Serikat. Koneksi ke jaringan backbone internet Tier-1 di Amerika baik tingkat keterhubungan level 2 dan level 3 akan bekerja sama dengan Verizon, sebuah perusahaan pemilik cable landing station (CLS) di Singapura.

Saat ini sebuah konsorsium serat optik laut internasional Asia-America Gateway (AAG) sedang membangun jaringan dari Singapura, Malaysia, Hongkong, langsung ke Amerika Serikat melalui Guam. Masih belum jelas apakah Bakrie akan memanfaatkan jaringan yang diperkirakan sudah mulai beroperasi mulai tahun 2008.

Pada tahap kedua pembangunan lima tahunnya adalah landing point di kota Kupang dengan rute jaringan internasional menuju kota Darwin, Australia. Rencana kedua ini dilakukan dengan asumsi jaringan backbone Palapa Ring tahap I, yaitu Palapa Ring timur yang dibangun oleh sebuah konsorsium dalam negeri telah beroperasi. Untuk jaringan ini, Bakrie bekerja sama dengan Telstra Corp, perusahaan pemilik CLS di Australia.

Harapan Bakrie

Sejauh ini Bakrie Telecom memang telah menempatkan diri sebagai budget operator yang memelopori penurunan tarif percakapan telepon untuk membuka akses lebih besar terhadap layanan telekomunikasi. Anindya berharap lisensi ini akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan lebih pada pelanggan maupun perusahaan.

"Nantinya kami dapat mandiri dalam menggunakan jaringan pihak lain untuk menyalurkan percakapan telepon internasional. Hal ini tentunya akan berdampak pada efisiensi dan peningkatan pendapatan bagi perusahaan. Performance perusahaan akan lebih baik ke depannya," ujar Anindya

Dengan lisensi internasional ini diharapkan bisa semakin memperkuat posisinya sebagai operator telekomunikasi nasional. "Kami baru saja membuka layanan di enam kota baru di Jawa dan Sumatera. Sebentar lagi kami pun akan hadir di bagian timur Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Lisensi ini tentunya akan memberikan pilihan dan keseriusan kami mengembangkan layanan telekomunikasi di Indonesia," tuturnya.

Perusahaan milik kelompok Bakrie ini berkembang dengan visi untuk memberikan layanan telekomunikasi dengan tarif terjangkau. "Saat ini kami mendapatkan kemampuan untuk menawarkan tarif percakapan internasional yang terjangkau sehingga masyarakat Indonesia dapat berhubungan dengan anggota keluarganya atau mendorong kemampuan perusahaan kecil dan menengah bersaing di pasar internasional. Kami yakin komitmen kami untuk membuka akses telekomunikasi yang lebih besar bagi masyarakat akan sejalan dengan langkah pemerintah untuk mempercepat peningkatan teledensitas telepon di Indonesia. Ini karena percepatan teledensitas ini merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi bangsa," paparnya.(KOMPAS)

16 Komentar
Halaman  1  2  3  4  
iskandar | 2008-11-02 10:40:37
saya sangat senang mendengar berita tentang gebrakan yang dilakukan bakrie telecom, tp saya sedih karena saya punya saham BTEL di harga 425 yang sekarang tinggal 60-an, bagaimana tanggapan nya
dhul | 2008-10-29 20:01:37
esia udah pernah ke parepare ngak? singgah yuk???????
lukman | 2008-10-20 15:04:28
kapan esia bisa masuk wilayah Sulawesi khususnya Gorontalo ???
sentot | 2008-10-13 01:15:05
kapan esia bisa full g ada bolong2nya.....selama ini aq selalu pake esia tapi kl dah kluar kota kadang g ada sinyal.....esia kapaaaaaaaan neh bisa nangkap sinyal di seluruh indonesia...salut buat esia.......
Beri Komentar

Security Code
Sorotan
Ponsel Lokal Berjuang Meraih Citra Positif
Fakta tidak adanya industri dalam negeri yang mampu memasok komponen berkualitas menyulitkan hadirnya ponsel yang benar-benar buatan Indonesia.
Perkembangan Teknologi Baterai Ponsel
Ibarat darah di tubuh kita, baterai di peralatan elektronik termasuk ponsel, sangatlah vital. Teknologi baterai telah mengalami evolusi.
Menambah Informasi Geografi Digital
Meraih Peluang Kedua Kemajuan Internet
Bakrie Telecom Calon Raksasa Baru?
Berita
M-Mail
Beberapa tahun belakangan, teknologi telekomunikasi dan Internet saling berkolaborasi. Dari Internet Anda bisa melakukan panggilan telepon, ataupun berkirim SMS. Sebaliknya juga. Melalui ponsel Anda bisa mengakses situs Internet, chatting, dan tentunya ju
Sorotan
Pamerkan video favorit ke penerima telepon
Operator keasyikan meraup keuntungan ring back tone, yang hanya bisa memamerkan lagu pilihan ke nomor tujuan. Padahal, ada yang lebih canggih! Anda bisa memamerkan video pilihan ke nomor tujuan, yang bisa diganti-ganti sesuka hati
© 2007 - Sinyal - All rights reserved -- Developed by Kompas Cyber Media